PBAK UIN SMH Banten Ricuh: Mahasiswa Teriakkan “Rektor Plagiat Perusak Marwah Akademis”
Oleh: Kamaludin, SE
Ketua Umum Gerakan KAWAN
Serang,29 Agustus 2025 Banten kembali tercoreng di panggung akademik. Di kampus yang seharusnya menjadi kawah candradimuka pembentukan akhlak dan intelektual, justru bau busuk kepalsuan dan kebobrokan moral mencuat ke permukaan.
Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin Banten yang seharusnya menjadi ruang pengenalan nilai-nilai akademis, malah berakhir ricuh di hari terakhir, Kamis (28/8).
Sekitar pukul 16.15 WIB, Aula Convention Center Hall berubah menjadi arena perlawanan. Sejumlah mahasiswa dengan berani melakukan aksi demonstrasi, menuntut penurunan Uang Kuliah Tunggal (UKT) bagi mahasiswa baru. Namun bukan itu saja—yang lebih meledak justru spanduk-spanduk protes yang menggantung di tiang pembatas lantai atas, salah satunya bertuliskan: “Rektor Plagiat Perusak Marwah Akademis.”
Kalimat itu bukan sekadar teriakan emosional, tapi cerminan dari keresahan mendalam. Bagaimana mungkin seorang rektor—tokoh yang seharusnya menjadi teladan intelektual—diduga kuat melakukan plagiarisme? Bagaimana mungkin kampus Islam di Banten, tanah yang penuh sejarah ulama dan perlawanan, justru dipimpin oleh figur yang dituduh merampok karya akademik orang lain?
![]() |
Aula Convention Center Hall Universitas Islam Negeri (UIN) mahasiswa Pasang spanduk protes |
Jika dugaan itu benar, maka rusaklah marwah akademis, hancurlah kehormatan perguruan tinggi Islam, dan tercorenglah wajah Banten di kancah nasional. Plagiat itu maling intelektual. Lebih hina dari sekadar mencuri uang, karena yang dirampas adalah hak cipta, ide, dan buah pikir orang lain.
Ironisnya, semua ini terjadi di tengah jargon moralitas, integritas, dan keislaman yang selalu didengungkan kampus. Apa artinya slogan Islami kalau pemimpinnya sendiri diduga menjiplak? Bukankah Islam mengajarkan kejujuran, bukan kepalsuan? Bukankah ulama Banten dahulu berjuang dengan darah dan ilmu, bukan dengan memalsukan karya untuk naik jabatan?
Kericuhan PBAK ini hanyalah puncak gunung es. Tuntutan mahasiswa soal UKT adalah jeritan ketidakadilan ekonomi. Tapi spanduk “Rektor Plagiat” adalah tamparan keras pada wajah institusi: bahwa kampus ini sedang mengalami krisis legitimasi moral.
![]() |
Aula Convention Center Hall Universitas Islam Negeri (UIN) mahasiswa Pasang spanduk protes |
UIN SMH Banten seharusnya menjawab dengan transparansi, bukan dengan menutup-nutupi. Kalau memang rektor terbukti plagiat, mundurlah secara terhormat. Jangan berlindung di balik toga dan jabatan. Jangan biarkan mahasiswa yang justru mengingatkan malah dicap pengacau.
Kampus Islam mestinya jadi mercusuar kebenaran, bukan tempat berlindungnya intelektual palsu. Dan Banten, daerah yang dikenal keras kepala dalam melawan penindasan, tidak boleh membiarkan dunia akademik dipimpin oleh rektor yang diduga pembohong akademik.
Hari ini mahasiswa sudah bersuara. Pertanyaannya: apakah suara itu akan didengar, atau justru dibungkam?